Berita

Industri asuransi dan dana pensiun mencatatkan peningkatan investasi hingga Mei 2017. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun meningkat menjadi Rp 243,97 triliun.

Konsensus: Neraca Dagang Juli Diramal Defisit U$ 384,5 Juta

  News      bandi
14 August 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan mengalami defisit pada Juli. Jika terwujud, maka rantai surplus perdagangan selama dua bulan beruntun terputus. 


Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data perdagangan internasional pada esok hari. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor pada Juli terkontraksi alias turun 11,59% year-on-year (YoY) dan impor negatif 19,38% YoY. Sementara neraca perdagangan diperkirakan defisit US$ 384,5 juta. 


Sedangkan konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan ekspor dan impor mengalami kontraksi masing-masing 11,4% YoY dan 18,1% YoY. Neraca perdagangan juga diramal defisit, tetapi lebih agak dalam yaitu 420 juta. 


Defisit neraca perdagangan kali terakhir terjadi pada April, bahkan kala itu sangat dalam  mencapai US$ 2,29 miliar. Kemudian pada Mei, neraca perdagangan mampu berbalik surplus US$ 210 juta dan sebulan kemudian kembali surplus US$ 200 juta.


Faktor eksternal seperti ekspor memang sedang menghadapi tantangan tahun ini. Bara perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China yang membara sejak tahun lalu belum kunjung menemui jalan keluar. Kedua negara sudah bolak-balik berunding, memberi harapan, tetapi ujungnya belum ada kesepakatan. 


"Perdagangan dunia melemah seiring perlambatan investasi dan ketidapastian kebijakan. Kenaikan tarif bea masuk dari AS yang kemudian dibalas oleh China dan negara-negara lain telah berdampak kepada arus perdagangan dunia. Secara umum, kami memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia tahun ini adalah 2,6%, melambat dibandingkan 2018 yang sebesar 4,1%. Pertumbuhan pada 2019 adalah yang terlemah sejak krisis keuangan global," papar Bank Dunia dalam Global Economic Prospects keluaran Juni 2019. 


Permintaan Domestik Jadi Kunci


Oleh karena itu, sepertinya akan sulit menjadikan ekspor sebagai tumpuan harapan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II-2019, ekspor terkontraksi 1,81%, sedikit membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu minus 1,86%. 


Jadi, sumber pertumbuhan ekonomi akan murni mengandalkan konsumsi domestik, baik rumah tangga maupun pemerintah. Salah satu stimulus untuk mengangkat konsumsi adalah melalui suku bunga. 


Bank Indonesia (BI) sepertinya sudah berganti peran, dari penjaga stabilitas menjadi agen pendorong pertumbuhan ekonomi. Ini bisa dilihat dari penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan lalu. 


Gubernur Perry Warjiyo pernah berjanji bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka. Artinya, penurunan BI 7 Day Reverse Repo Rate bisa berlanjut. 


"Kami memperkirakan suku bunga acuan masih bisa turun 75 bps lagi. Namun waktu pelaksanaannya akan tergantung pada perkiraan neraca pembayaran ke depan. Data neraca perdagangan dan eskalasi AS-China serta penurunan risk appetite di pasar keuangan tentu menjadi bahan pertimbangan para pengambil kebijakan," sebut Helmi Arman, Ekonom Citi. 


Dari sisi fiskal, ini yang agak rumit karena implementasinya butuh proses. Misalnya wacana pemerintah yang ingin menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan. Kebijakan ini akan berdampak besar kepada investasi dan pada akhirnya mendongkrak daya beli. 


Namun prosesnya agak berliku. Pemerintah harus membahas perubahan ini bersama DPR, yang tentu memakan waktu. Tidak seperti penurunan suku bunga acuan yang bisa langsung dieksekusi, kebijakan fiskal butuh tahapan-tahapan yang harus dilalui. 


Oleh sebab itu, BI boleh dibilang menjadi tumpuan harapan pengerek pertumbuhan ekonomi. Sulit berharap kepada pemerintah untuk memberi solusi dalam jangka pendek.