Berita

Industri asuransi dan dana pensiun mencatatkan peningkatan investasi hingga Mei 2017. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun meningkat menjadi Rp 243,97 triliun.

Perang Dagang AS-China Makin Hot, Harga Batu Bara Rontok

  News      bandi
06 August 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara acuan global kembali melemah akibat sentimen dari perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Maklum, perang dagang AS-China akan membuat ekonomi global melambat sehingga permintaan energi ikut turun.


Pada sesi perdagangan Senin (5/8/2019), harga batu bara Newcastle kontrak pengiriman September melemah 0,62% menjadi US$ 72,25/metrik ton.


Seperti yang telah diketahui, Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan mengenakan bea impor sebesar 10% atas produk China senilai US$ 300 miliar per 1 September 2019. Sebelumnya produk-produk tersebut belum dikenakan bea impor alias bukan merupakan objek perang dagang.


Selanjutnya China membalas. Namun kali ini bukan dengan tarif baru.


Juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal China telah menghentikan pembelian produk-produk pertanian asal AS, seperti dikutip dari Reuters. Langkah tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar pada perekonomian AS. 


Pasalnya, China merupakan salah satu pembeli produk pertanian AS yang terbesar. Dengan terhentinya pembelian tersebut, akan ada banyak petani asal AS yang kesulitan menjual produknya.


Perlu diingat bahwa petani merupakan salah satu konstituen penting bagi Donald Trump, yang akan maju lagi pada pemilu 2020 nanti. Jika ada banyak petani yang sengsara (akibat perang dagang), maka Trump akan semakin sulit untuk memenangkan pemilu.


Jika pada September nanti AS benar-benar mengeksekusi tarif baru, maka perang dagang akan berkecamuk pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berkaca pada eskalasi perang dagang yang terjadi pada bulan Mei, Bank Dunia (World Bank/WB) dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kompak sudah kompak menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dan 2020.


Pada Juni, Bank Dunia menurunkan ramalan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 0,3 poin persentase menjadi 2,6%. Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 dipangkas 0,1 poin persentase menjadi 2,7%. Adapun IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 dan 2020 sebesar 0,1 poin persentase menjadi masing-masing sebesar 3,25 dan 3,5%.


Kala perekonomian global melambat, maka pertumbuhan permintaan energi, yang besar berasal dari batu bara akan semakin sulit tumbuh.