Berita

Industri asuransi dan dana pensiun mencatatkan peningkatan investasi hingga Mei 2017. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun meningkat menjadi Rp 243,97 triliun.

IHSG Anjlok, Asing Malah Rekor di Pasar Obligasi Rp 1.018 T

  News      bandi
05 August 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing tampaknya tidak khawatir dengan pasar surat berharga negara (SBN) Indonesia, bahkan terus masuk membeli lebih banyak obligasi rupiah pemerintah hingga mencapai rekor baru Rp 1.018 triliun, meskipun pasar keuangan global dan domestik masih dibekap sentimen negatif global. 


Rekornya investor asing ke pasar SBN tercermin dari data kepemilikan asing milik Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.018,96 triliun SBN, atau 39,31% dari total beredar Rp 2.591 triliun berdasarkan data per 1 Agustus.  


Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 125,71 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 


Rekor tersebut kembali tercipta meskipun harga obligasi masih terjebak tren penurunan (bearish) yang sudah berlangsung 6 hari berturut-turut.


Senin ini (5/8/2019), harga Surat Utang Negara (SUN) terkoreksi akibat keputusan Presiden AS Donald Trump yang bersikukuh akan tetap menerapkan kenaikan tarif impor 10% terhadap produk China senilai US$ 300 miliar, meskipun ditentang timnya sendiri di Gedung Putih. 


Turunnya harga SUN itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.


Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).  


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, vice versa. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 


Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 


Seri acuan yang paling melemah adalah FR0077 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 6,7 basis poin (bps) menjadi 7,03%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.