Berita

Industri asuransi dan dana pensiun mencatatkan peningkatan investasi hingga Mei 2017. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun meningkat menjadi Rp 243,97 triliun.

AS Tabuh Genderang Perang ke China, Bursa Asia Berdarah-Darah

  News      bandi
02 August 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia berdarah-darah pada perdagangan hari ini. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei anjlok 2,12%, indeks Shanghai ambruk 1,58%, indeks Hang Seng jatuh 2,02%, indeks Straits Times turun 0,5%, dan indeks Kospi terkoreksi 1,1%.

Hal yang ditakutkan pelaku pasar akhirnya terjadi juga: perang dagang AS-China resmi tereskalasi.

Kemarin (1/8/2019), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10% bagi produk impor asal China senilai US$ 300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 September.

Kacaunya lagi, Trump menyebut bahwa bea masuk baru tersebut bisa dinaikkan hingga menjadi di atas 25%. Melansir CNBC International, belum jelas apa yang membuat Trump mengakhiri periode gencatan senjata yang disepakati dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir bulan Juni, kala keduanya bertemu di sela-sela gelaran KTT G20 di Jepang.

Satu hal yang pasti, pengumuman dari Trump ini datang pasca dirinya melakukan rapat dengan Menteri keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer terkait dengan hasil negosiasi di Shanghai pada pekan ini. Sebelumnya, hawa negatif memang menyelimuti gelaran negosiasi dagang AS-China di Shanghai.

Pada hari kedua (Rabu, 31/7/2019), negosiasi diakhiri lebih cepat dari jadwal, seperti dilansir dari Reuters. Walau kedua belah pihak mendeskripsikan bahwa negosiasi dagang selama dua hari tersebut berlangsung konstruktif, keduanya sama-sama tak mengumumkan langkah konkret apapun yang akan diambil guna mempercepat penandatanganan kesepakatan dagang.

Malahan, terdapat perbedaan yang signifikan dari pernyataan kedua negara terkait dengan langkah konkret tersebut. Pihak AS menyebut bahwa China kembali menyatakan komitmennya untuk membeli produk agrikultur asal AS dalam jumlah yang lebih besar, sementara pihak China hanya menyebut bahwa delegasi kedua negara mendiskusikan hal tersebut dan tidak menyebut adanya komitmen apapun.