Berita

Industri asuransi dan dana pensiun mencatatkan peningkatan investasi hingga Mei 2017. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun meningkat menjadi Rp 243,97 triliun.

Tak Terbendung, Reli Harga Obligasi RI Terus Berlanjut

  News      bandi
28 October 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah menguat signifikan hingga siang ini di tengah ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed). Akhir bulan ini, The Fed diprediksi akan menurunkan suku bunga sebesar 0,25% menjadi 1,5%-1,75%.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0077 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 4,8 basis poin (bps) menjadi 6,49%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Peningkatan ekspektasi penurunan suku bunga diperlihatkan oleh naiknya probabilitas dari survei pasar yang dihimpun CME Fedwatch yang mencapai 94,1% dari posisi pekan lalu 90,9%.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 524 bps, menyempit dari akhir pekan lalu 529 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik 1,5 bps hingga 1,81% dari posisi akhir pekan lalu 1,8%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, 3 bulan-10 tahun, dan 2 tahun-10 tahun yang mulai mereda, karena menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.050,84 triliun SBN, atau 38,9% dari total beredar Rp 2.701 triliun berdasarkan data per 24 Oktober. Posisi itu masih menjadi level tertinggi kepemilikan investor asing.

Angka kepemilikannya masih positif Rp157,59 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 12,19 triliun, sedangkan sejak awal bulan masih surplus Rp 21,45 triliun.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, mayoritas masih mengalami koreksi harga sehingga yield mayoritas obligasi negara naik.